Laman

Rabu, 17 Juli 2013

Sendiri & Sakit Hati

Ketika seorang (Toeta Tu Kurunae) bertanya di dunia fb, di suatu grup yang dinamai dengan Menjalin Ukhuwah, Isma'il Sya'roni Hasibuan coba untuk menanggapi. Percakapan tersebut sebagaimana berikut*;
Assalamu ‘alaikum,
Kawan-kawan bagaimana caranya agar bisa menjadi orang yang berguna bagi orang lain dan bagaimana agar kita itu tidak mempunyai sifat individual??? Syukran.
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wbarakatuh,
Sekadar menyampaikan yang pernah saya dengar/baca/pikir/alami/atau lainnya;
“Orang yang paling mulia adalah orang yang paling berguna”
Jadilah pelayan bukan yang dilayani
Kita memang kecil, tapi jangan pernah mau dianggap kecil
Puncak kebahagiaan adalah ketika kita peduli orang lain
"Siapa yang ingin luas rezeki, maka sambunglah kasih-sayang (shilaturrahìm)
Seringlah berkunjung, niscaya kasih sayang (hubb) akan bertambah
Sapalah mereka walau hanya dengan satu kata
Anda baik pasti orang pun baik pada Anda
Isma'il, tapi bagaimana caranya??? Aku orangnya individual, saat mau mulai pembicaraan aku selalu minder dan takut, aku selalu ingin sendiri karena menrutku; sendiri tu indah.... Meski kita sakit hati, tapi kita tidak akan menyakiti bila sendiri. Lebih-lebih bila aku lagi berantem sama pasangan atau lagi sebal sama kawan dan sahabat.
Cara yang pertama adalah dengan membuang rasa minder dan mengelola rasa takut tersebut, sehingga bisa menempatkannya pada yang seharusnya.  Rasa malu, takut dan marah adalah sifat dan sikap yang harus diolah oleh setiap orang. Karena bila belum/tidak mampu mengolahnya, suatu saat nanti atau setelah kejadian berlalu maka penyesalan/rasa bersalah pun akan menghampiri.
Kemudian diam memang lebih baik daripada bicara yang tiada mengandung makna dan hikmah. Daripada menumbuhkan rasa sakit dalam hati, lebih baik meninggalkan pembicaraan tersebut. Tapi terkadang bila tidak bicara mungkin ada hal yang seharusnya tidak terjadi akan terjadi. Adalah hikmah di balik ‘pikir dahulu baru bicara’.
Menyendiri juga kurang/tidak baik bila tiada manfaat. Bergabunglah dengan teman-teman meski itu hanya sekadar duduk bersama. Katakan/bercerita sekadar untuk mengisi suasana meski hanya basa-basi (tanpa unsur bohong/dosa) adalah baik. Sosialis atau tidak, bukan dinilai dari percakapan saja. Sebab, belum tentu orang pendiam itu tidak sosialis dan sebaliknya, sendiri atau menyendiri pun belum tentu dikatakan individualis/egois.
Takut menyakiti hati orang lain adalah rasa yang sangat bagus, dengan rasa itu bisa mengontrol diri, sikap, tingkah-laku agar tetap terjaga. Namun bukan berarti hal semacam itu menjadi penghalang untuk menyampaikan sesuatu. Kareana rasa takut, sebagai bagian dari emosional juga, adalah untuk diolah. Segala sesuatu tergantung pola pikir setiap orang. Oleh itu mengolah pola pikir itu sangatlah penting. Karena dengan pola pikir yang baik, seseorang bisa menjadi percaya diri, hebat, semangat, atau lainnya.
Dengan pola pikir yang baik juga, kita bisa mengatasi suatu masalah dengan baik. Seperti masalah yang berhubungan dengan sosial; orang, sahabat, pasangan atau keluarga. Masalah yang berkaitan dengan sosial, biasanya terjadi karena kesalah-pahaman atau perasaan, karena setiap pemahaman dan persaan itu pasti berbeda. Meski dalam ucapan ia sama, tapi yang dipahami dan/atau yang dirasakan itu pasti berbeda, hanya bisa dipahami/dirasakan yang memiliki tanpa bisa diungkapkan dengan kata yang pasti/tepat. Jadi, kita bisa mengolah pola pikir dengan menanamkan bahwa setiap kejadian harus dipelajari terlebih dahulu kemudian mengambil sikap yang tertata dengan baik, bukan buru-buru. Demikian denagan pemahaman dan perasaan, bahwa setiap pemahaman dan perasaan itu pasti berbeda serta menjadikan segala sesuatu yang berkaitan dengan pemahaman dan perasaan itu sebagai hal yang lumrah/pasti terjadi, terutama terhadap pemahaman dan perasaan yang berbeda. Sehinngga kita bisa menyiapkan diri untuk itu, walau ketika pada kejadian ada asap iblis yang merasuk ke dalam jiwa, kita bisa dengan mudah untuk memaklumi dan meminta maaf dan/atau memaafkan, baik itu pada saat atau setelah kejadian.
“Malu bertanya sesat di jalan”
“Awalilah menyapa meski hanya dengan satu kata”
“Mulailah sapaan dengan menanyakan kabar”
“Cuek is the best” (lihat SiKon)
“Jangan pernah takut akan kebenaran yang ingin Anda sampaikan”
“Katakan yang benar meski itu terasa sulit/pahit”
Bottom of Form”Rasa persaudaraan akan terjalin dengan komunikasi/interaksi yang baik”
“Jadilah orang yang memiliki jiwa penyabar dan pemaaf”
“Jangan biarkan luka dalam hati berlarut”
“Segala sesuatu tergantung pola pikir setiap orang”
 “Minta maaf itu lebih baik daripada menunggu permintaan maaf”
“Saling memaafkan itu baik untuk kesehatan”
Terkadang kita mengira seseorang itu sombong hanya karena ia diam, menyendiri, logat berbicaranya, karena wajahnya (yang sudah demikian rupa), atau karena hal lainnya. Berkaitan dengan hal semacam ini, dalam buku Jawàhir al-Ahàdìts disebutkan bahwa Allah tidak menilai seseorang dengan meliht jasad, rupa, bentuk, penampilannya, atau lainnya. Akan tetapi Allah menilai melalui hatinya.
Dalam al-Qur`an juga diberitahukan bahwa Allah menilai seseorang dari segi usahanya bukan dari hasilnya dan orang yang paling mulia di sisiNya adalah orang yang paling taqwa, paling patuh padaNya. Demikian pula ada penjelasan bahwa orang yang paling baik dalam kehidupan adalah orang yang paling berguna, banyak memberi manfaat, bukan orang yang paling banyak bicara atau orang pendiam. Bisa saja orang pendiam dalam lisan adalah orang paling aktif dalam tulisan, mungkin ‘Diamnya adalah Emas’, atau hal-hal lainnya.
Sebab itu, tidaklah patut bagi setiap orang untuk menilai atau membenci seseorang, terutama itu tanpa alasan dan/atau bukti. Jika ingin membenci, boleh saja, tapi jangan selalu. ‘Benci yang Kamu benci cukup sekadarnya, karena suatu saat nanti mungkin ia adalah yang paling Kamu cintai. Sukai yang kamu suka cukup sekadarnya, karena suatu saat nanti mungkin ia adalah yang Kamu benci’.
Semoga manfaat.
Bàrakalláh lanà wa ‘alainà..


*Tulisan ini sudah melalui proses perbaikan dan tambahan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar